Arafah Hijau dengan Pohon Soekarno

Bukan Padang Arafah, yang tepat Taman Arafah,” ujar seorang teman, mengomentari kondisi Padang Arafah saat ini, bahkan sejak bertahun-tahun.

Padang Arafah yang terletak lebih dari 20 kilometer dari pusat kota Mekkah, Arab Saudi, memang bukan lagi padang tandus, pasir berbatu-batu. Kawasan itu telah hijau royo-royo. Dari Jabal Rahmah, pemandangan menghijau tampak di kawasan itu. Meski hanya ada satu jenis pohon yang tumbuh, warna hijau daunnya paling tidak menyegarkan mata.

Saat mengunjungi Jabal Rahmah, bukit bukti cinta Adam dan Hawa, yang terletak di kawasan Arafah, dua pekan lalu, belum ada satu tenda pun yang dipasang di Arafah. Padahal, pada hari ini jutaan jemaah dari seluruh dunia datang ke Arafah, menunggu waktu wukuf yang merupakan puncak ibadah haji, Senin (15/11). Di dalam tenda-tenda yang dipasang untuk menampung seluruh jemaah itulah, muslimin dan muslimat yang tengah menjalankan ibadah haji menunggu wukuf.

Panas terik udara padang pasir Jazirah Arab paling tidak akan terkurangi dengan kesejukan dari pepohonan yang tumbuh di Arafah. Padang Arafah, simbolisasi Padang Masyar, tempat pengadilan manusia kelak.

Kondisi Arafah yang hijau royo-royo, tak terlepas dari peran dan gagasan Bung Besar kita, Presiden Soekarno. Ide menghijaukan Padang Arafah muncul saat presiden pertama Republik Indonesia itu sedang wukuf saat menunaikan ibadah haji pada awal tahun 1960-an.

Pengamat kehutanan dan lingkungan, Transtoto Handadhari, dalam artikelnya (Kompas, 24 Maret 2001), menyebutkan, pohon setinggi empat meter hingga enam meter, yang kini tumbuh di Arafah adalah jenis pohon mindi (melia azedarah). Pohon ini di Arab Saudi dikenal dengan nama ”pohon soekarno”.

Penanaman pohon soekarno di padang seluas 1.250 hektar itu oleh Pemerintah Arab Saudi merupakan bentuk penghargaan atas gagasan Bung Karno menghijaukan Padang Arafah. Pemerintah Arab Saudi mengundang ahli kehutanan Indonesia untuk menjalankan program itu.

See also  Noah Gelar Konser Di Amerika

Transtoto menyebutkan, jenis pohon yang dipilih adalah mindi yang dibawa dari Indonesia. Pohon ini tahan hidup di padang pasir. Untuk mendukung pertumbuhan pohon itu, dibawa pula tanah subur dari Indonesia dan Thailand. Untuk penyiraman, di bawah tanah dipasang pipa air dan setiap pohon mendapatkan satu keran air sendiri.

Upaya itu membuahkan hasil. Sejak bertahun-tahun lalu, Arafah hijau royo-royo. Kelestarian pohon itu diharapkan tetap terjaga meskipun 3,5 juta lebih jemaah akan datang, baik saat menunggu maupun saat wukuf berlangsung. Dam alias denda di berlakukan bagi jemaah, di antaranya jika mencabut rumput sekalipun atau mematahkan ranting pohon. Dam berupa memotong seekor kambing tentu akan menjauhkan jemaah, misalnya, dari mematahkan dahan atau ranting pohon soekarno.

Berkat perawatan dan pengembangan yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi, pohon soekarno saat ini tidak hanya tumbuh di Arafah. Di sejumlah kota, seperti Madinah dan Mekkah, pohon ini tumbuh tersebar di pelosok kota. Di kawasan Syariq Mansyur, Mekkah, misalnya, di sejumlah halaman gedung terdapat pohon-pohon mindi yang tumbuh lebih dari enam meter.

Di jalan-jalan utama kota suci itu, pohon soekarno bahkan telah menjadi pohon penghias jalan. Beberapa tahun lagi, pohon-pohon itu tentu akan menyejukkan para pemakai jalan.

Di Terminal Bus Kuday, Mekkah, sungguh telah hijau pula, kontras dengan latar belakangnya, yakni bukit berbatu. Terminal Kampung Rambutan dan Pulogadung, Jakarta, kalah hijau.

Gagasan baik berbuah baik pula.

referensi: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.